
Jakarta, Info Graphic Pics Indonesia
—
Sutradara
Stephen Chow
membeberkan perbedaan mendasar film terbarunya,
Kung Fu Soccer
, dengan film klasik hitnya yang Shaolin Soccer (2001).
Sebagai sutradara dan penulis naskah, Chow menilai kedua karya bertema kung fu sepak bola ini menandai refleksi perjalanan hidup serta metamorfosis mentalitas kepenulisannya dalam 25 tahun terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Chow menggarisbawahi bahwa Shaolin Soccer lahir di tengah guncangan ekonomi Hong Kong kala itu, sehingga membawa narasi yang cenderung tebal akan perjuangan keras masyarakat kelas bawah.
Sehingga, seperti diberitakan via
Sina.com
pada Kamis (30/7), cerita Shaolin Soccer berfokus pada sekumpulan pria dari lapisan paling dasar yang bertaruh nasib dan melawan ketidakadilan kapital demi membuktikan harga diri.
Sebaliknya, Kung Fu Soccer hadir dengan pendekatan yang lebih rileks dan menaruh fokus pada dinamika solidaritas perempuan.
“Konflik yang diangkat tidak lagi seputar bertahan hidup di tengah kemiskinan, melainkan perlawanan terhadap stereotip gender, diskriminasi usia, serta tekanan mental di lingkungan kerja,” kata Stephen Chow.
[Gambas:Video Info Graphic Pics]
Sehingga, cerita Kung Fu Soccer disebut tak lagi terobsesi pada rekor menang atau kalah, melainkan proses berdamai dan menerima kondisi diri sendiri.
Hal tersebut disampaikan Stephen Chow saat menjadi bintang tamu dalam siaran langsung bersama content creator Dong Yuhui.
Perbedaan mencolok juga terlihat dari posisi Chow di proyek ini. Dalam Shaolin Soccer ia tampil langsung sebagai pemeran utama bersama almarhum Ng Man-tat lewat formula komedi Mo Lei Tau yang ikonis.
Namun, di film terbarunya, Chow sepenuhnya memegang kendali dari balik layar. Porsi utama diserahkan kepada deretan pemeran, seperti Zhang Xiaofei, Dilraba Dilmurat, hingga Lay Zhang tanpa memunculkan sosok antagonis murni.
Mendengar pemaparan tersebut, Dong Yuhui selaku pembawa acara menilai bahwa simpati penonton terhadap perjuangan para karakter di lapangan tetap tidak berubah.
Pergeseran gaya tersebut sekaligus menandai fase hidup Chow yang kian matang, dari sineas muda yang sarat amarah dan semangat membara demi impian, menjadi sosok senior yang mencipta karya atas dasar kecintaan pada hidup.
“Teknologi dan susunan pemainnya memang berbeda, tetapi sebagai penonton, saya melihat pesan emosional yang tidak pernah berubah,” tutur Dong Yuhui kepada Chow dalam sesi tersebut.
“Melihat perjuangan tim Emei dari kegagalan hingga bangkit kembali terasa seperti menyaksikan cerminan dari perjalanan hidup kita sendiri.”
Kung Fu Soccer tayang 12 Agustus di bioskop Indonesia.
[Gambas:Youtube]
(chri)
Baca lagi: Hasil FP1 MotoGP Inggris 2026: Alex Tercepat, Marc Marquez Keenam
Baca lagi: Teater Koma Rumah Sakit Jiwa Digelar 30 Juli-2 Agustus, Cek Tiketnya
Baca lagi: Ortu China Rela Bayar Rp34 Juta demi Anak Jadi ‘Warren Buffett’ Cilik