Review Film: Minions & Monsters

Jakarta, Info Graphic Pics Indonesia

Minions & Monsters

menunjukkan aksi-aksi bodoh para Minion masih memicu gelak tawa. Dengan konsep yang membawa penonton kembali ke era keemasan Hollywood, film ini membawa nostalgia kepada penggemar film.

Pun cerita yang ditulis oleh Pierre Coffin dan Brian Lynch juga disajikan dengan cepat oleh Coffin bersama Patrick Delage selaku sutradara, memungkinkan penonton bocah menikmati roller-coaster petualangan bersama para Minions.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kurang lebih menggunakan formula yang sama dengan saga Minions sebelumnya, Coffin dan Lynch tidak memberikan banyak beban kepada cerita film ketiga dalam saga prekuel Despicable Me selain daripada sajian berbagai aksi kebodohan para Minion.

Meski begitu, formula tersebut sebenarnya juga meninggalkan ampas yang terasa mengganggu kenikmatan cerita, terutama untuk penonton dewasa yang memang suka mencerna segala yang dilihat.

Pace

cerita yang cepat dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya racikan Coffin, Lynch, dan Delage dalam durasi 90 menit tidak memberikan kesempatan bagi penonton untuk mencerna lebih baik akan drama yang sedang ditampilkan.

Seperti sedang makan yang diburu dalam durasi singkat, semua pun dipaksa ditelan begitu saja tanpa dikunyah dengan baik. Bila di tengah jalan tersedak, maka yang ada akan ketinggalan cerita.

Bukan hanya itu. Coffin, Lynch, dan Delage seolah seperti dikejar setan dalam menyajikan film ini sehingga tidak memberikan ruang untuk karakter-karakternya berkembang atau memberikan banyak kepingan cerita yang lebih personal.

Beberapa karakter memang mendapatkan keistimewaan tersebut, seperti alien kaleng bodoh Dort yang cerita cintanya bagai meledek kisah La La Land (2016). Namun karakter lain, seperti minion bernama Ed, tidak kebagian. Padahal Ed memberikan sumbangsih besar dalam film ini.

Seandainya Coffin, Lynch, dan Delage memberikan ruang lebih banyak untuk Ed, atau bahkan karakter jahat dengan muka-meragukan-sebagai-

villain

bernama Goomi, aspek emosional dan personal dari film ini akan jadi sebuah nilai tambah tersendiri.

Berbicara soal Goomi, Coffin dan Lynch tampaknya memang memberikan pesan tersendiri bahwa bentuk rupa tidak menggambarkan apa yang ada di dalamnya. Sesuatu yang terlihat tidak menakutkan bukan berarti menyenangkan, begitu juga sebaliknya.

Goomi juga tidak memiliki waktu atau penjelasan cukup soal latar hidupnya. Bahkan alasan dirinya melakukan semua tindakan ‘jahat’ dalam film ini cuma datang dari dua

line

dialog. Begitu juga dengan monster bernama Irene yang harusnya punya

screen time

lebih banyak.

Entah apa yang mendasari keputusan Coffin, Lynch, dan Delage tersebut. Bisa karena mereka sepenuhnya mengadaptasi gaya bercerita film lawas yang tegas memisahkan karakter jahat dan baik, atau bisa jadi karena tidak ingin melebarkan bujet produksi yang sudah menyentuh US$85 juta.

Catatan lainnya adalah ketika Coffin dan Lynch memutuskan untuk menyajikan teknologi alien yang kelewat canggih di tengah latar Los Angeles dan Hollywood era 1920-an. Itu seperti menyajikan es krim nitrogen dengan jamu, jujur rada janggal.

Namun namanya juga saga Minions yang dibuat hanya sebagai panggung para Minion beraksi bodoh untuk membuat penonton tertawa, tanpa harus membebani penonton soal logika cerita dan makna di dalamnya. Kalau soal tujuan itu, Minions & Monsters memang sudah sangat memenuhi.

Selain ceritanya yang memang cuma ingin membuat penonton tertawa, visual yang disajikan dalam Minions & Monsters memang jempolan. Illumination masih menunjukkan dirinya sebagai studio animasi pesaing berat Pixar dalam urusan kualitas animasi dan gambar.

Desain para Minion, monster, hingga karakter-karakter baru tampil penuh ekspresi dan warna. Kreativitas tim animasi terasa dalam setiap desain monster yang memiliki bentuk unik dan mudah dikenali.

Dari sisi audio, John Powell kembali membuktikan kemampuannya merangkai musik yang menghidupkan suasana. Aransemen orkestranya menghadirkan nuansa Hollywood klasik era 1920-an, tetapi tetap dipadukan dengan melodi komedi khas yang mengikuti tingkah absurd para Minion.

Sebagai ‘pemain tunggal’, Pierre Coffin menunjukkan imajinasinya masih tokcer. Putra sastrawan mendiang NH Dini itu juga masih membawakan akar budaya Indonesia yang ia miliki, sejumlah kosakata berbahasa Indonesia di sela ucapan Minion, seperti “terima kasih” hingga “sate ayam”.

Terlepas dari catatan tersebut, Minions & Monsters memang memiliki konsistensi yang lebih baik dalam mengundang tawa dibandingkan dengan Despicable Me 4 (2024), sekaligus menegaskan kekuatan dari para Minion dalam saga prekuel petualangan ini.

Meski begitu, Illumination juga perlu berani untuk mengeksplor aspek kedalaman penulisan cerita sehingga penonton bukan hanya sekadar tertawa karena tingkah bodoh para Minion, tapi juga keluar dari bioskop dengan penuh kesan.

[Gambas:Youtube]

(end)

Add

as a preferred

source on Google

[Gambas:Video Info Graphic Pics]

Baca lagi: 5 Rekomendasi Film Akhir Pekan, Minions and Monsters dan ALPHA

Baca lagi: Bunuh 21 Ribu Anak Gaza, Israel Makin Dicap Rezim Pembunuh Bayi

Baca lagi: BP Tapera-GoTo Siapkan KPR DP Nol Persen Bagi Driver Ojol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: