Review Film: Moana (2026)

Jakarta, Info Graphic Pics Indonesia

Disney tampak sudah benar-benar belajar dari pengalaman di masa lalu dalam mengangkat kisah animasi sukses mereka dan mengubahnya ke bentuk live-action dalam

Moana (2026)

.

Setelah Disney berkali-kali membuat kesal banyak penggemar gegara

ngide banget

mengubah, menambahkan, bahkan memodifikasi cerita animasi sukses mereka untuk versi live-action, kali ini ia memilih untuk setia pada cerita aslinya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Moana (2026) secara umum hampir sama dengan Moana (2016). Bedanya, kali ini pengalaman magis dalam bentuk animasi coba ditampilkan seriil mungkin. Kesetiaan dan tampilan riil itu mungkin tidak akan terwujud kalau bukan karena andil tim kreatif versi animasi memegang posisi penting dalam proyek terbaru Disney menambang cuan dari IP mereka sendiri ini.

Salah satu kreator asli Moana, Jared Bush, duduk di balik meja penulis bersama Dana Ledoux Miller. Dwayne Johnson yang mengisi suara Maui di versi animasi kembali memerankan karakter itu dalam format manusia sekaligus salah satu produser film ini bersama Lin-Manuel Miranda yang di versi animasi adalah otak di balik musik Moana.

Setelah visi dan naskah dipegang oleh “orang-orang lama”, Disney membuat keputusan tepat dengan menyerahkan kursi sutradara kepada Thomas Kail, sutradara Broadway kawakan pemenang Tony Awards.

Hasilnya? Moana (2026) bisa menyamai magisnya versi animasi. Realistis, tapi tetap terasa fantasinya. Jalan cerita pun masih sama, membuat para penggemar aslinya bisa kembali bernostalgia, tapi sekaligus mendapatkan pengalaman baru.

Hanya saja, tak ada gading yang tak retak. Ada sejumlah catatan dari naskah yang ditulis oleh Bush dan Miller. Hal pertama yang disadari adalah berkaitan dengan karakter Maui yang diperankan oleh Dwayne Johnson.

Harus diakui Johnson menghadapi gelombang ekspektasi yang besar dengan mewujudkan Maui versi manusia dan sebagai produser film ini. Sayangnya, ia gelagapan menghadapi gelombang itu kala berlayar dalam Moana (2026).

Performa The Rock terasa naik turun di film ini. Bahkan pesona Maui tidak selalu mampu mengimbangi kuatnya penampilan pendatang baru Catherine Laga’aia yang memerankan Moana. Aspek humor dan karisma Maui memang masih ada, tapi dalam sejumlah momen, energi dan

chemistry

antara Maui dan Moana tak semulus dan sesolid versi animasi.

Belum lagi sejumlah adegan yang ditulis Bush dan Miller yang berkaitan dengan Maui kurang bisa mendongkrak aspek emosional. Bukan cuma itu, sejumlah adegan lainnya, bahkan pada adegan krusial macam panggilan dari laut, juga terasa belum matang dalam penggodokan cerita serta gagal diselamatkan oleh Thomas Kail.

Thomas Kail mungkin masih belum luwes menghadapi cerita live-action fantasi ini, mengingat portofolionya lebih banyak musikal sejarah, biografi, atau drama lainnya. Namun untuk pengalaman pertama, Kail bisa dibilang lulus.

Imajinasi teatrikal ala Broadway yang ada di benak Kail benar-benar ia tumpahkan dalam Moana (2026). Hal itu terlihat dari bagaimana ia menampilkan cerita dan segala drama musikal ‘ajaib’ di dalamnya sehingga terlihat megah, hidup, sinematik, seperti kala ia menggarap Hamilton (2020) dan pementasan In the Heights (2007).

Hanya ada sejumlah catatan yang muncul dari hasil Kail, salah satunya adalah visualisasi ancaman terhadap Pulau Motunui masih kurang terasa genting. Padahal hal itu bisa jadi dramatisasi kedalaman cerita dari Moana (2026).

Meski begitu, seperti film Disney lainnya, aspek visual yang cantik adalah

bare minimum

dari proyek studio tersebut yang biasanya memakan bujet ratusan juta dolar. Dalam Moana (2026), tim efek dan editing sukses menghasilkan fantasi dunia Moana ke dunia fana.

Laut, ombak, makhluk-makhluk mitologi, kehidupan di Pulau Motunui, lanskap pulau, hingga Te Fiti dan Te Kā berhasil divisualisasikan dengan meyakinkan. Efek visualnya tidak terasa berlebihan, tetapi justru memperkuat suasana magis yang jadi identitas Moana.

Selain itu, koreografi aksi yang ditampilkan dari para pemain saat adegan musikal dan dipadukan dengan efek visual, membuat adegan-adegan tersebut menghanyutkan penonton dalam ombak ketegangan sekaligus hiburan menyenangkan dari ceritanya.

Namun bintang sesungguhnya dari Moana (2026) ini memanglah Catherine Laga’aia. Sebagai pendatang baru, aktris keturunan Samoa itu bersinar terang sebagai sang gadis lautan. Bahkan, tak bisa dipungkiri, ia adalah Moana di dunia tiga dimensi.

Laga’aia berhasil menampilkan sosok calon pemimpin yang bertanggung jawab dan berani, sekaligus remaja yang penuh semangat nan ceria tapi juga punya kegalauan. Pergulatan batin karakter Moana muncul natural dari dirinya, seolah memang ini adalah kisah hidup Laga’aia.

Kesempurnaan Catherine Laga’aia itu didukung dengan latar kehidupan masyarakat Polinesia yang bukan cuma jadi pemanis, tapi menebalkan aspek emosional sekaligus inklusif. Detail-detail kecil, mulai dari aktivitas warga, pakaian tradisional, hingga hubungan mereka dengan laut, berhasil membuat dunia Motunui terasa hidup.

Aransemen lagu-lagu ikonis juga terdengar lebih megah dan menyatu dengan kehidupan Moana di dunia tiga dimensi ini. Lagu-lagu seperti How Far I’ll Go maupun We Know the Way tetap menjadi penggerak emosi cerita, tetapi dengan orkestrasi yang lebih besar sehingga terasa semakin sinematik.

Meski belum sempurna, segala hasil racikan Moana (2026) di atas membuktikan kadangkala film live-action hanya butuh kesetiaan dari studio dan sineas pada cerita yang sudah membuat penonton jatuh cinta. Tanpa perlu memaksakan perubahan cerita atas nama relevansi dan inklusivitas, yang malah membuat film live-action macam versi sinema dari aktivisme performatif.

[Gambas:Youtube]

(end)

Add

as a preferred

source on Google

[Gambas:Video Info Graphic Pics]

Baca lagi: Tiket Konser BOYNEXTDOOR di Jakarta 2026 Mulai dari Rp1,8 Juta

Baca lagi: Harga Minyak Dunia Tergelincir ke US$76 Dibayangi Ancaman Pasokan

Baca lagi: Prabowo Targetkan MBG Jangkau Seluruh RI Awal 2027

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai:

Uncategorized

Review Film: Moana (2026)

Jakarta, Info Graphic Pics Indonesia — Disney tampak sudah benar-benar belajar dari pengalaman